27 Okt 2014

Life is a choice, dud

Hidup adalah sebuah pilihan, bukan? Ya, bahkan hal terkecil pun harus kita pilih. Seperti, apakah akan mandi hari ini atau tidak? Apakah yang akan kita makan siang ini? Apakah akan minum air dingin atau air hangat? Dan lain sebagainya.


Setiap hal yang kita pilih nantinya akan menjadi sebuah kejutan kehidupan. Seperti ketika gue memutuskan untuk masuk SMP ketimbang mengambil sekolah agama (MTS). Dan, setelah masuk SMP gue dikejutkan dengan kehidupan SMP yang rata-rata anak borjuis. Dibully karena bukan anak orang kaya dan tidak cantik adalah hal termenyakitkan yang pernah gue rasakan ketika duduk di bangku SMP dulu. Sempat ada rasa sesal kenapa gue harus memilih masuk SMP kala itu. Tapi, gue pun sadar, itu adalah pilihan yang gue ambil sendiri dan gue harus bertanggungjawab penuh dengan pilihan itu sekaligus menghadapi segala resikonya. Untungnya, gue nggak selamanya kena bully ketika SMP. Menginjak bangku kelas 3, gue dipertemukan dengan teman-teman yang begitu menyayangi gue. Seenggaknya, gue lulus dengan keadaan tenang dan memiliki teman. Alhamdulillah.

Lulus SMP, lagi-lagi gue dihadapkan pada sebuah pilihan. Karena nem gue yang tidak terlalu tinggi, gue gagal masuk SMA negeri favorit. Gue harus memilih masuk SMA Cendrawasih atau Dharma Karya. Pilihan itu menjadi sangat sulit ketika gue dihadapkan pula dengan kondisi ekonomi keluarga gue yang pas-pasan. Kala itu, ekspektasi gue adalah kalau gue masuk Cendrawasih, gue akan mendapatkan pendidikan yang lebih layak, tapi harus mengeluarkan uang yang lebih banyak karena biaya di sana lebih mahal ketimbang di Dharma Karya. Sedangkan, kalau gue memilih Dharma Karya, pendidikannya tak sebagus Cendrawasih, namun biayanya lebih murah.

Sebelum gue memilih, nyokap memberi wejangan ke gue. Dan pada akhirnya, gue pun memilih masuk Dharma Karya. Ketika gue mulai mengenyam pendidikan di sana, nggak pernah terbersit rasa menyesal karena memilih sekolah itu. Kenapa? Karena sekolah itu berskala kecil, hubungan antarsiswa maupun siswa dan guru lebih dekat tanpa sekat. Pendidikannya pun tak seburuk apa yang sebelumnya gue pikir. Gue banyak mendapat ilmu terutama dari pelajaran-pelajaran yang gue suka, Bahasa Indonesia, Bahasa Jepang, dan Sejarah. Tak hanya itu, mungkin jika gue memilih cendrawasih, gue nggak akan mengikuti ekskul marawis, padus, nasyid, atau bergabung dalam band sekalipun. Dan yang lebih nggak membuat gue menyesal adalah, gue bisa mengenal pria bernama Yudi yang membuat gue semangat belajar dan mampu menaklukkan pelajaran-pelajaran yang gue benci (matematika, fisika, dan kimia).

Lulus SMA, gue harus memilih kampus mana yang akan menjadi tempat gue menimba ilmu selanjutnya. Pertama kali gue memilih kampus PNJ. Di sana gue mendaftar lewat bidik misi. Beasiswa undangan. Sekolah gue mendapat undangan dari PNJ untuk mengirimkan nama-nama siswa yang ingin masuk ke sana. Mendengar kata “bewasiswa” membuat gue semangat untuk mendaftar. Kurang lebih ada 4 orang yang mendaftar dan hanya gue yang diterima. Gue nggak pernah menyangka gue akan diterima di PNJ. Namun, sebelum pemberitahuan gue diterima itu, gue telah lebih dulu terdaftar sebagai mahasiswa di Politeknik Negeri Media Kreatif (POLIMEDIA) jurusan Penerbitan. Gue gagal masuk PNJ sekaligus mendapat beasiswa karena gue lebih memilih masuk POLIMEDIA. Gue sempat menyalahkan diri sendiri ketika akhirnya takdir gue berbelok dari apa yang orangtua gue mau. Tapi kemudian, gue pun kembali bersyukur karena telah memilih POLIMEDIA sebagai tempat gue menimba ilmu setelah lulus SMA. Gue mendapatkan ilmu yang gue inginkan “penulisan dan desain”.

Dan kini, gue kembali dihadapkan pada sebuah pilihan yang nantinya akan membuat hidup gue lebih baik atau stak tak bergerak.

Well, ini lah kehidupan. Selalu penuh kejutan di dalamnya. Bagaimanapun keadaan nantinya ketika kita telah memilih, kita tetap harus menghadapinya, menghadapi konsekuensi apapun karena itu adalah pilihan kita. Kehidupan yang kita jalani, kita lah tokoh utamanya. Kita yang menentukan ke arah mana kita bergerak.




Lebih baik hidup dengan menerima segala resiko dari pada mati sia-sia karena putus asa. 

2 komentar:

  1. Setuju, kita memang tokoh utama yg berperan dalam suatu pilihan. Namun bahkan untuk hal yg kita ngerasa gak punya pilihan sekalipun. Menerimanya atau menyesalinya. tulisan bagus.

    BalasHapus
  2. yap, betul sekali. maka dari itu "life is a choice, dud" :D terimakasih ^_^

    BalasHapus

Ngasih komentar di blog ini termasuk sedekah loh :p

© Coretan Kecil Seorang Jilbaber 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis