Udah beberapa hari ini gue memikirkan “apa sih passion gue? Apa
sih karir yang cocok berdasarkan passion gue? Apa sih seharusnya yang gue
lakuin? Mengikuti passion atau lari dari itu?” Pertanyaan-pertanyaan itu terus
berkecamuk di otak gue. Akhir-akhir ini gue jadi sering ngelamun. Ngomong sendiri
di kamar. Kadang malah gue marah-marah tanpa alasan yang jelas. Gue seperti
orang stres. Hilang kendali. Beberapa kali gue minta pendapat dari temen-temen
gue. Banyak yang bilang gue harus ikutin passion gue, ngembangin passion gue,
dan yang paling penting adalah memperbaiki hubungan gue dengan Sang Pencipta.
Ya, mereka bilang iman gue lagi turun. Gue kehilangan Allah di hati gue.
Sehingga gue kaya gini. Astaghfirullah. Kenapa gue baru sadar gue beberapa hari
ini sering shalat nggak tepat waktu, udah jarang baca Al-Qur’an.
5 Jan 2015
4 Jan 2015
Kawan, Maafin Gue Ya #1Dream1Day
201 4 lalu, tanpa gue sadari gue kehilangan temen gue. Temen
yang paling baik. Temen yang selalu ada di saat suka maupun duka gue. Namun,
karena sebuah keegoisan, gue udah kehilangan dia. Bukan. Dia bukan menghadap
sang Illahi. Tapi, pergi menjauh dari gue. Dan gue baru menyadari hal itu
Desember kemarin. Parah kan? Iya, parah banget. Manusia macem apa gue yang lupa
sama orang yang udah sering banget nolong saat gue susah.
3 Jan 2015
Planning 2015, Usaha Pakaian #1Day1Dream
Beberapa bulan lalu ada teman yang mengajak untuk berbisnis
bersama. Awalnya kami hendak bisnis jualan kerajinan tangan dari kain flanel.
Namun, tiba-tiba beralih ke usaha pakaian. Beberapa bulan berjalan, tapi belum
ada kemajuan. Ada saja kendalanya. Entah dari terbatasnya modal, sampai
perbedaan pendapat dari kami berdua. Memang sulit menyatukan dua kepala dalam
satu usaha. Jujur aja, dalam hal ini gue lah yang ngebossy. Gue yang ngendaliin
semua. Dari mulai marketing sampai menentukan harga untuk dijual. Sebenernya
nggak boleh sih begitu, tapi bagaimana lagi. Rasanya gatel pengen ngatur ini
itu.
2 Jan 2015
Mekkah I’m Coming #1Day1Dream
“Ayooo kita lombaan. Siapa yang bakal naikin ayah dan ibu
pergi haji duluan, dia yang menang.” Ucap adik gue hari itu. Ya, dimulai dari
hari itu lah kami memiliki janji pada diri kami masing-masing untuk segera
mengumpulkan uang dan menaikkan haji kedua orangtua kami. FYI, gue anak pertama
dari tiga bersaudara. Adik gue yang pertama udah kerja duluan pada tahun 2011
lalu. Sedangkan gue memilih untuk kuliah setelah lulus sekolah pada tahun 2010.
Kalau diukur dari waktu kerja, jelas gue kalah telak sama adik gue. Tapi kalau
diukur dari siapa yang paling hemat, jelas gue yang menang. Tapi, tetap aja gue
nggak punya uang saat ini karena kembali jadi pengangguran. Jadi nggak bisa
ngumpulin uang lagi untuk memboyong orangtua gue ke Mekkah.
1 Jan 2015
Menjadi Seorang Penulis #1Day1Dream
Jujur aja, perpindahan tahun 2013 ke 2014 tahun lalu, gue
sama sekali nggak punya resolusi apa-apa. Bahkan gue nggak punya tujuan akan
gue apakan hidup gue. Dengan santainya mengira hidup gue akan terus enak tanpa
hambatan. Dan merasa nggak perlu menyiapkan apa-apa untuk tahun 2014. But, i’m
wrong. Gue jatuh di tahun 2014. Merangkak di tengah orang yang berlarian.
Bahkan mimpi gue untuk jadi penulis hampir terhapus di benak gue karena terlalu
larut dalam kenikmatan sementara.
Di pertengahan tahun 2014 gue harus menerima nasib gue untuk
keluar dari kerjaan karena kontrak kerja gue yang nggak diperpanjang. Gue nggak
punya persiapan apa-apa saat itu. Sehingga, selama empat bulan gue jadi sampah
masyarakat. Pengangguran, cuuuyyy.... Selama jadi pengangguran itu gue
merenung, apa sih mimpi gue? Kenapa gue jadi luntang-lantung seperti orang yang
nggak punya mimpi dan cita-cita.
Langganan:
Postingan (Atom)

