24 Okt 2014

Saya hanya Ingin Berpendapat, Bolehkah?

Semalam, ketika gue sedang mengetik panjang lebar di kolom chat, adik gue nyeletuk “ya Allah, dia lagi. Masih aja lo ladenin, ka. Orang modus kaya dia. Ckckck.” Tiba-tiba, hati gue berdesir mendengar kalimat itu. Walau hanya celetukan, tapi begitu kena di hati. Nggak sekali dua kali gue mendapat kalimat seakan gue orang yang “bodoh” karena meladenin setiap komen atau chat yang hadir di facebook.

“Dih, lo ngapain si ngeladenin orang alay kaya gitu.”

“Ya ampun Farah, nggak usah diladenin cowok jelek kaya gitu. Liat deh, giginya maju gitu.”

“Kaya cewek murahan lo, ngeladenin cowok sana-sini.”


Kalimat-kalimat itu yang sering terdengar oleh gue. Keramahan gue, ke-welcome-an gue terhadap orang lain sekalipun gue belum kenal, dianggap salah oleh sebagian orang. Dalam pikiran gue, dia alay atau nggak, dia gaul atau cupu, dia cakep atau jelek, dia kaya atau miskin, dia berhak mendapatkan perlakuan yang sama. Membalas komen atau chat adalah salah satu bentuk perlakuan kecil yang berakibat besar bagi yang mendapatkannya. Gue tau rasanya diabaikan itu seperti apa.

Gue pernah bertanya di kolom komentar orang lain. Dan... sama sekali nggak dibales sama dia. Gue pun update status berisi pertanyaan yang gue tulis di kolom komentar orang tersebut. And you know? Si pemilik status yang gue komen sebelumnya itu mengomentari status gue dan menjawabnya. Dia menjawabnya setelah gue update, tapi dia menjawabnya bukan di kolom komentar status miliknya, melainkan di status milik gue. Sebegitunya orang nggak mau terlihat “murah” dengan hanya membalas komentar di akun facebooknya. Gue nggak pernah takut dianggap murahan. Apa yang “murahan” dari membalas komentar dan chat? Apa? Hidup lo ribet karena terlalu jaim. Pengen keliatan “ini loh gue, ada yang komen tapi nggak gue bales. Hebat kan gue? Nggak murahan kan gue?” Apa definisi murahan seperti itu? Apa orang yang berusaha menghargai orang dengan membalas komentarnya itu berarti murahan? Sedangkal itu kah?

Gue tau dengan jelas rasanya diabaikan. Apa salahnya melakukan hal kecil dengan membalas komentar atau chat? Perlakuan kecil itu akan berdampak besar pada yang menerima. Mereka akan merasa dihargai. Dimanusiakan oleh kita. Bukankah kita ingin pula dihargai orang? Mengapa kita tak memulainya dengan menghargai orang lain terlebih dahulu?

Walau begitu, gue nggak selamanya akan terus meladeni orang-orang itu. Ada kalanya gue membiarkan jika gue rasa dia cukup mengganggu. Setidaknya gue sempat meluangkan waktu gue menghargai komen atau chatnya dengan berbincang kecil. Jikalau gue rasa perbincangannya sudah mulai mengganggu, baru lah gue berhak menentukan pilihan apa akan dilanjutkan perbincangan itu atau diabaikan saja. Kita harus bijak pula dalam bersikap bukan? Walau sikap kita yang kita anggap benar pasti akan dianggap salah oleh beberapa orang yang melihatnya. 

3 komentar:

  1. yah, kalo menurut lo itu hal yang bener lakuin. kalo bukan, ya ga usah di lakuin. gampang aja sih, far.

    tapi kalo bleh saran, jgan sering update di fb jg sih, far. klo mnrut gue sih. hee

    BalasHapus

Ngasih komentar di blog ini termasuk sedekah loh :p

© Coretan Kecil Seorang Jilbaber 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis